Khawatir

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “khawatir” merupakan padanan dari kata Ibrani da’ag (kata ini disusun dari huruf-huruf dan tanda vokal Ibrani: dalet dagesh lene-qames-alef-patah-gimel), yang diturunkan dari akar kata induk dg (dalet-gimel). Sebagaimana sejarah huruf Ibrani modern yang pada awalnya berasal dari huruf-gambar, huruf “dalet” berupa gambar pintu tenda dan huruf “gimel” berupa gambar kaki. Gabungan gambar “dalet-gimel” berarti “gerakan kaki maju-mundur”.

Sebagaimana yang kita kenal di zaman modern, pintu dipakai sebagai tempat jalan keluar-masuk rumah.Pada zaman Ibrani kuno, rumah mereka tidak permanen, melainkan berupa tenda. Pintu tenda berupa tabir (gorden) yang menggantung di atas jalan keluar-masuk tenda. Pada waktu siang gorden itu ada kalanya digulung ke atas, dan ada kalanya dibiarkan menggantung. Pada saat seseorang keluar tenda, ia akan melewati gorden yang menggantung tersebut, sehingga gorden akan terdorong ke depan. Ketika orang itu telah melewatinya, maka gorden kembali ke belakang. Gorden bergerak maju dan mundur ketika seseorang melewatinya.

Orang Ibrani menggambarkan keadaan seseorang yang khawatirseperti gorden yang bergerak maju mundur itu. Seseorang yang khawatir,ia melangkahkan kakinya maju-mundur. Ia tidak mantap dalam melangkah. Ia mau bergerak maju, tapi karena sesuatu hal, ia mundur lagi.

Orang yang Mengandalkan Tuhan tidak Khawatir

Yeremia 17:5-8 mencatat tentang dua macam orang, yaitu orang yang mengandalkan manusia dan orang yang mengandalkan Tuhan. Orang yang mengandalkan manusia sama dengan orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan. Dia adalah orang terkutuk,(bandingkan ayat 5). Orang seperti itu diumpamakan seperti semak bulus di padang belantara, di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk (ayat 6).

Keadaan orang yang mengandalkan manusia tersebut dilawankan dengan orang yang mengandalkan Tuhan.Orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan (ayat 7). Orang semacam ini diberkati Tuhan. Ia diumpamakan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (ayat 8).

Rasa khawatir, yang digambarkan orang Ibrani kuno seperti “gerakan kaki maju-mundur”, tidak terjadi pada orang yang mengandalkan Tuhan. Sekalipun ia hidup pada masa paceklik atau ekonomi dunia yang sedang tergoncang seperti sekarang ini, ia tetap dapat melangkahkan kaki dengan mantap dan tidak ragu-ragu.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

Kemegahan atau Kecongkakan

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata Ibrani gaon (gimel dagesh lene-qames-alef-holem waw-nun) dipadankan dengan kata-kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia (ITB/LAI), baik bernada positif maupun negatif, antara lain: kemegahan, kejayaan, keluhuran, kemuliaan, kecongkakan, keangkuhan, dan kesombongan. Kata-kata yang bernada positif (kemegahan, kejayaan, keluhuran, kemuliaan) selalu berhubungan dengan Tuhan dan umat Tuhan yang taat (Lihat misalnya: Ulangan 33:26, 29; Mazmur 47:4; (47:5); 68:34 (68:35); 93:1; Keluaran 15:7; Ayub 37:4; 40:10 (40:5); Yesaya 2:10,19; 4:2; 14:11; 12:5; 26:10; 24:14; 60:15; Amsal 8:7; Mika 5:4 (5:3); Nahum 2:2).

Sedangkan kata-kata yang bernada negatif selalu berhubungan dengan bangsa-bangsa lain, orang fasik atau umat Tuhan yang dalam keadaan tidak taat. Kalau toh kata “kemegahan” dipakai untuk bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan, kata itupun berada dalam konteks kalimat yang negatif (Lihat ayat-ayat berikut ini: Mazmur 10:2; 31:18 (31:19), 23 (31:24); 59:12 (59:13); 123:4; Amsal 16:18; 29:23; 8:13; Yes aya 9:9 (9:8); 13:11; 16:6; 23:9; 25:11; 28:3; Yeremia 13:9; 48:29; Ayub 38:11; Yehezkiel 7:20, 24; 16:49, 56; 30;6, 18; 32:12; 33:28; Hosea 5:5; 7:10; Zefanya 2:10; Zakaria 9:6; 10:11; 11:3)

Apa arti kata gaon ditinjau dari tulisan-gambar (piktograf) Ibrani kuno? Kata tersebut diturunkan dari akar kata induk g’ (gimel-alef). Huruf gimel pada awalnya adalah gambar kaki yang mengandung ide “membawa” atau “mengangkat”, sedangkan huruf alef adalah gambar kepala sapi jantan yang mengandung makna kekuatan. Gabungan dua gambar tersebut berarti “mengangkat kekuatan”. Seseorang diangkat ke posisi yang lebih tinggi. Juga, suatu ide tentang keagungan atau kemegahan.

LAI dalam menerjemahkan kata gaon (mengangkat kekuatan) langsung memilah antara yang dikenakan kepada Tuhan dan umatNya yang taat dengan yang dikenakan kepada orang fasik dan umatNya yang tidak taat. Hal ini cukup menolong pembaca mengambil kesimpulan, bahwa kemegahan, kejayaan, keluhuran, dan kemuliaan adalah: (1) milik Tuhan, dan (2) milik umatNya yang taat, tapi semata-mata karena dibuat megah, jaya, luhur, dan mulia oleh Tuhan.

Sebaliknya, orang fasik dan umat yang tidak taat kepada Tuhan yang “mengangkat kekuatannya” adalah orang-orang sombong, angkuh, dan congkak. Mereka akan dipatahkan dan diberi ganjaran oleh Tuhan sendiri.

Implikasi

Apakah arti kekuatan manusia di hadapan Tuhan sehingga ia harus “mengangkat kekuatannya”? Kita ini berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu tanah pada saat Tuhan mengambil nafas hidupNya dari kita.

Dengan demikian setidaknya, ada dua implikasi mengenai hal ini. Pertama, implikasi dalam hubungan dengan sesama. Manusia tidak sepantasnya menggunakan kekuatannya secara sewenang-wenang terhadap orang lain, baik kekuatan politik, ekonomi, budaya, atau pun yang lain. Bukankah kekuatan itu dapat diambil Tuhan sewaktu-waktu?

Kedua, implikasi dalam hubungannya dengan Tuhan. Bukankah kita ini juga akan binasa kalau tetap mau bermegah atas kekuatan kita dan tidak mau menerima kasih karunia pembenaran dari Dia? Rasul Paulus telah menyatakan 2000 tahun lalu, bahwa tidak ada dasar untuk bermegah berdasarkan perbuatan manusia. Hanya oleh kasih karunia manusia memperoleh pembenaran melalui penebusan dalam Kristus Yesus (Roma 3:27).

Mari kita bermegah (mengangkat kekuatan) bukan berdasar perbuatan kita, tapi berdasar iman kepada Tuhan Yesus Kristus!

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

Amin

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “amin” mungkin menjadi salah satu kata yang paling sering diucapkan oleh orang Kristen. Apa arti kata tersebut ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?

Dalam bahasa Ibrani, kata itu ditulis dengan huruf-huruf “alef-qames-mem-sere-nun” (amen), yang biasa dipadankan dengan kata “benar”, “sungguh”, “percaya” ataupun “pasti”. Namun kata “amen” ini juga seringkali tanpa diterjemahkan dan hanya sedikit mengalami perubahan dari bahasa Ibrani, yaitu “amin”.

Dari tinjauan tulisan Ibrani kuno, kata amen tersebut diturunkan dari akar kata induk mn (mem-nun). Huruf “mem” pada awalnya merupakan gambar air atau cairan yang lain seperti darah, sedangkan huruf “nun” adalah gambar sebuah benih yang melambangkan keberlanjutan. Gabungan dua gambar tersebut berarti “darah berlanjut”. Setiap spesies melanjutkan generasi berikut dengan meninggalkan darahnya, yang datang dari orang tuanya.

Apa hubungan antara kata “amen” dengan darah? Asal-usul keturunan seseorang hanya dapat dipastikan atau dipercaya hanya melalui hubungan darah. Si “F” memiliki nenek-moyang “A” jika memang si “F” memiliki hubungan darah sebagai anak-ayah dengan si “E”, si “E” dengan si “D”, si “D” dengan si “C”, si “C” dengan si “B”, dan si “B” dengan si “A”. Jika mereka tidak memiliki pertalian darah satu dengan yang lain seperti itu, maka sekalipun Si “F” mengaku keturunan dari Si “A”, pengakuannya itu tidak dapat dipercaya.

Ide kepastian atau hal yang dapat dipercaya melalui pertalian darah ini secara cermat dipakai Matius dengan menjelaskan garis keturunan Tuhan Yesus di pasal yang paling awal dalam Injilnya. Tujuannya, agar para pembaca memiliki kepastian dan percaya bahwa Dia keturunan Raja Daud yang telah lama dinubuatkan para nabi.

Darah juga dipakai untuk memastikan dan mengesahkan perjanjian, bahwa perjanjian itu memang layak dipercaya. Musa mengambil darah perjanjian berkaitan dengan komitmen bangsa Israel untuk melakukan Firman Tuhan (Keluaran 20:8; Ibrani 9:18,20). Tuhan Yesus menyebut cawan yang diminum para murid adalah darahNya, darah perjanjian, yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa (Matius 26:28, Markus 14:24).

Dengan demikian kata “amin” ( Indonesia ) atau “amen” (Ibrani) berarti sesuatu yang pasti atau sesuatu yang dapat dipercaya, yang diteguhkan atau disahkan melalui darah.

Makna Perkataan Paulus

Menarik di bagian terakhir surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. Dia menulis, “Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus” (1 Korintus 16:24). Dalam Alkitab terjemahan LAI/ITB, ayat tersebut memang tidak terdapat kata “amin”. Namun dalam King James Version dan Alkitab Perjanjian Baru bahasa Ibrani terjemahan Salkinson-Ginsburg, di bagian terakhir ayat tersebut terdapat kata “amin”. Selengkapnya ayat tersebut berbunyi: “Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus. Amin.”

Setelah mengetahui makna kata “amin” di atas, kita dapat melihat kedalaman makna ungkapan Paulus tersebut. Ia pasti mengasihi jemaat Korintus. Kesungguhan kasihnya kepada orang-orang, ia buktikan dengan perjalanan penginjilannya yang tak kenal lelah dengan segala resiko yang ditimbulkannya.

Ia ditekan bangsanya sendiri, orang Yahudi, saat menginjil di Damsyik ( Galatia 1:17; Kisah Para Rasul 9:19). Ia lari ke Yerusalem dan di situ pun orang Yahudi akan membunuhnya. Bersama Barnabas, Paulus menjelajahi pulau Siprus dan Galatia Selatan (Kisah Para Rasul 13-14). Daerah-daerah seperti Antiokia, Ikonium, Listra, Derbe, dan mungkin Perga berhasil tumbuh gereja-gereja Kristen. Paulus juga menginjil di Filipi, Tesalonika, Berea , Atena, Korintus.

Ia menghadapi tuduhan memperkosa kekudusan Bait Suci di Yerusalem. Para penuduh menghasut orang banyak sehingga menimbulkan huru-hara. Ia ditangkap dan ditahan. Ia menghadapi ancaman pembunuhan tanpa peradilan. Lalu, ia dilarikan ke Kaisarea, tetap dalam status orang hukuman. Ia naik banding ke Roma. Dalam perjalanannya ke Roma, kapalnya kandas. Tentu, nyawanya pun terancam oleh badai di laut itu. Sampai di Roma , ia tetap menjadi tahanan rumah, tapi ia memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus.

Dari paparan kisah Paulus itu, kita melihat bahwa Paulus tidak latah menggunakan kata “amin”. Ia sungguh-sungguh tahu kedalaman makna kata kasih yang sungguh-sungguh tersebut. Ia membuktikannya dengan menginjil banyak orang dengan segala resiko. Ia mau melakukan hal itu karena Tuhan Yesus telah mengasihinya dengan penumpahan darah di kayu salib.

Bagaimana saya dan Anda menggunakan kata “amin”: hanya latah, ikut-ikut orang lain, atau memang tahu kedalaman maknanya? Ingatlah bahwa kata itu berarti sesuatu yang pasti atau sesuatu yang dapat dipercaya, yang diteguhkan atau disahkan melalui darah.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

Umat

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “umat” sangat dikenal hampir setiap orang percaya. Ungkapan orang Kristen, “Kita adalah umat Tuhan” adalah alkitabiah. Apa arti kata “umat” ditinjau dari tulisan dan maknanya dalam bahasa Ibrani kuno?

Kata “umat” (terjemahan LAI) antara lain padanan dari kata Ibrani ‘am (ayin-patah-mem) dan ‘edah (ayin-sere-dalet-qames-he). Kata ‘edah ini sering juga diterjemahkan “jemaah” (dalam PL) dan jemaat (dalam PB).

Kata ‘am berasal dari akar kata induk ‘m (ayin-mem). Kata ‘im (ayin-hiriq-mem) , yang biasanya diterjemahkan “beserta” atau “menyertai”, juga diturunkan dari akar kata induk ‘m (ayin-mem) ini.

Sebagaimana telah ditulis dalam Gali Kata Alkitab edisi 25 dengan judul “Imanuel”, bahwa huruf “ayin” dan “mem” (dan semua huruf Ibrani yang lain) dalam bentuknya seperti sekarang ini merupakan perkembangan dari bentuk huruf gambar (piktograf) pada masa lampau. Huruf “ayin” adalah gambar mata dan berarti “melihat”, sedangkan huruf “mem” adalah gambar air dan berarti “kumpulan”. Jadi gabungan dua gambar tersebut berarti “melihat kumpulan”. Maksudnya, bahwa ada sejumlah orang yang ada bersama-sama dalam satu kelompok dan satu lokasi.

Kata “umat” memiliki makna yang istimewa karena kumpulan itu tidak hanya terdiri dari orang-orang yang berada dalam satu lokasi dan satu kelompok. Dengan terang Yesaya 7:14 dan Matius 1:23, maka kata “umat” itu secara khusus berarti bahwa sejumlah orang yang berada dalam satu kelompok atau lokasi itu ada Allah di tengah-tengahnya.

Umat Tuhan = Menyaksikan Perbuatan Tuhan

Kata “umat” juga padanan dari kata Ibrani ‘edah (ayin-sere-dalet-qames-he), turunan dari akar kata induk ‘d (ayin-dalet). Dalam piktograf Ibrani kuno, huruf “ayin” adalah gambar mata dan berarti melihat, sedangkan huruf “dalet” adalah gambar pintu. Gabungan dua gambar tersebut berarti “melihat pintu”. Apa maksud “melihat pintu”?

Orang-orang datang ke tenda pertemuan dan masuk melalui pintu. Karena banyak orang yang datang, maka seseorang yang melihat pintu akan melihat peristiwa orang masuk melalui pintu secara berulang-ulang. Jadi, “melihat pintu” (‘edah=umat) berarti menyaksikan suatu peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang.

Dengan demikian kata “umat”, “jemaah” atau pun “jemaat” mengandung pengertian sebagai kesaksian seseorang yang menceritakan orang lain. Mereka bisa memberikan kesaksian karena mereka telah melihat suatu peristiwa secara berulang-ulang. Dengan demikian frasa “umat Tuhan”, berarti sejumlah orang yang berada dalam satu lokasi dan satu kelompok dengan Tuhan ada di tengah-tengahnya dan mereka itu menyaksikan perbuatan-perbuatan Tuhan.

Pada zaman Yosua , sembilan setengah suku di Kanaan (sebelah Barat sungai Yordan) nyaris menyerang dua setengah suku Israel yang menetap di sebelah Timur sungai Yordan, yaitu suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye, karena pendirian mezbah di Gelilot. Suku-suku di barat mau melakukan hal itu karena mereka anggap suku-suku di Timur Yordan mau memberontak kepada Tuhan. Utusan suku-suku di Barat mengatakan, bahwa mereka adalah “umat Tuhan” (ayat 16). Mereka tahu bahwa Tuhan akan murka dan seluruh Israel akan terhukum. Mereka telah menyaksikan berulang-ulang bahwa itulah yang Tuhan lakukan setelah peristiwa di Peor (ayat 17) dan kasus Akhan (ayat 20).

Memang, suku-suku di Timur tidak bermaksud untuk berbalik dari Tuhan, tapi peristiwa itu menjadi petunjuk bahwa suku-suku di Barat berlaku sebagai “umat Tuhan”.

Saya dan Anda adalah “umat Tuhan”. Karena itu, mari kita menjadi saksi yang memberitakan perbuatan-perbuatan Tuhan.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi. Berbagai sumber dipakai sebagai rujukan tulisan ini)

Roh “Pengertian”

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “pengertian” merupakan padanan dari kata binah (bet-hiriq yod-nun-qames-he) dalam bahasa Ibrani.Kata binah berasal dari akar kata (child-root) byn (bet-yod-nun), yang diturunkan dari akar kata induk (parent-root) bn (bet-nun).

Huruf “bet” dalam piktograf Ibrani kuno berupa gambar denah tenda. Sedangkan huruf “nun” berupa gambar benih atau kecambah dan melambangkan kelestarian atau kesinambungan sebagaimana benih melestarikan generasi yang akan datang. Gabungan dua piktograf itu berarti “pelestarian rumah”.

Apa hubungan antara kata “pengertian” dengan “pelestarian rumah” tersebut? Tanpa mengetahui kebiasaan orang Ibrani kuno dalam membangun tenda, kita pasti akan mengalami kesulitan untuk memahami hubungan ini. Tenda dibuat dari tenunan rambut kambing. Dari waktu ke waktu matahari mengelantang tenunan rambut kambing itu dan membuatnya rapuh. Oleh karena itu, setiap tahun para wanita membuat sehelai tenunan baru untuk mengganti yang lama.

Lalu dikemanakan tenunan yang lama itu? Tenunan yang lama tidak dibuang. Ada dua kemungkinan, yaitu dipakai untuk alas di lantai atau kemungkinan lain untuk dinding tenda. Bekas “atap” tenda itu ditambahkan ke dinding atau pun lantai yang lama, sehingga dinding dan lantai bisa terdiri dari beberapa helai tenunan rambut kambing.

Setiap tenda selalu ada dinding pemisah untuk membedakan ruang laki-laki dan ruang wanita. Makna kata “pengertian” berhubungan dengan dinding tenda ini. Dinding tenda yang mampu memisahkan dan membedakan ruang laki-laki dan wanita dipakai untuk membangun ide abstrak kata “pengertian” itu. Bagi orang Ibrani, kata “pengertian” berarti suatu kemampuan untuk membedakanantara dua hal atau lebih.

Personifikasi Tuhan Yesus

Amsal menasihatkan agar anak-anak mendengarkan dan memperhatikan didikan seorang ayah supaya mereka memperoleh pengertian (Amsal 4:1). Bahkan Salomo, penulis Amsal ini, lebih lanjut menegaskan supaya tidak lupa memperolehnya (ayat 5). Penegasan untuk memperoleh pengertian diulangi lagi di ayat 7.

Rupanya, penulis menyejajarkan hikmat dan pengertian (ayat 5). Penggunaan kata hikmat dan pengertian secara bergantian juga menunjukkan penyejajaran ini (ayat 1 dan 6). Atau setidaknya, hubungan keduanya sangat dekat, yaitu orang yang memperoleh hikmat akan memperoleh pengertian (ayat7).

Anak yang memperoleh pengertian akan dijunjung tinggi dan dihormati (ayat 8), bahkan akan dijaga dan dipelihara (ayat 6), juga dikenakan mahkota (ayat 7). Siapa yang menjunjung tinggi, menghormati, menjaga, memelihara, dan mengenakan mahkota terhadap anak-anak yang memperoleh pengertian? Tidak lain adalah hikmat dan pengertian itu sendiri. Salomo menggunakan gaya bahasa personifikasi (memperlakukan benda mati sebagai manusia) dalam menjelaskan hikmat dan pengertian.

Dengan terang nubuatan Yesaya, bahwa dalam diri Yesus ada roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN (11:2). Rasul Paulus menyatakan dengan jelas, seperti ini, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Korintus 1:30). Dengan demikian hikmat dan pengertian dalam kitab Amsal merupakan personifikasi Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus adalah sumber hikmat dan pengertian itu. Berikut ini tiga di antara banyak contoh dalam Injil menggambarkan hal itu. Saat Tuhan Yesus dicobai Setan, Dia dengan mudah menolak kehendak setan itu, berdasarkan Firman Allah (Lukas 4:1-13). Yesus bisa keluar dari jerat orang Farisi dan Ahli Taurat ketika diperhadapkan dengan seorang perempuan yang menurut mereka kedapatan berbuat zinah (Yohanes 8:1-11). Saat menghadapi pertanyaan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dantua-tua, tentang sumber kuasaNya yang sebenarnya sudah jelas, Yesus tidak menjawab mereka. Dia menghentikan pertanyaan itu dengan balik bertanya tentang baptisanYohanes Pembaptis (Markus 11:27-33).

Jadi bagaimana untuk memperoleh “pengertian”? Tidak ada jalan lain: milikilah hikmat itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus! Sebab, oleh Allah Tuhan Yesus telah menjadi hikmat bagi kita.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi. Berbagai sumber dipakai sebagai rujukan tulisan ini)

Belajar

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “belajar” dipadankan dengan kata Ibrani “lamad” (lamed-qames-mem-patah-dalet). Kata “lamad” berasal dari akar kata induk lm (lamed-mem). Huruf “lamed” pada awalnya merupakan gambar tongkat gembala, sedangkan huruf “mem” adalah gambar air, yang antara lain menyimbolkan kekuatan. Gabungan keduanya berarti “tongkat kekuatan”.Apa maksudnya?

Pada zaman kuno, setidaknya ada dua macam tongkat untuk keperluan yang berkenaan dengan hewan piaraan. Tongkat yang dipakai gembala yang selalu dipegang di tangannya dan tongkat yang digunakan untuk kuk bajak.

Tongkat merupakan alat utama bagi seorang gembala dan tidak dapat lepas darinya. Tongkat dipakai untuk menuntun, memberi petunjuk atau mengarahkan, dan melindungi hewan gembalaannya. Sedangkan kuk bajak juga berupa tongkat atau galah yang lebih besar dan panjang. Tongkat itu dipasang melintang di bahu dua sapi dan diikatkan di leher mereka. Keduanya terikat bersama, sehingga keduanya mudah diarahkan untuk keperluan membajak atau pun menarik kereta.

Dengan demikian kata “lamad” berarti “mengarahkan sapi dengan tongkat”. Suatu pembelajaran dengan tongkat.

Firman Tuhan adalah Tongkat Kekuatan

Musa menyampaikan pesan kepada imam-imam bangsa Israel pada tahun-tahun terakhir pengembaraan mereka di padang gurun, sebelum memasuki tanah Kanaan. Mereka diminta membacakan Taurat Tuhan di depan seluruh umat Israel agar umat itu mendengarnya dan belajar (lamad) takut akan Tuhan (Ulangan 31:10-13). Pada pasal sebelumnya, Musa juga meminta raja yang akan memerintah Israel agar membaca Taurat Tuhan itu untuk belajar (lamad) takut akan Dia (Ulangan 17:18-20).

Taurat atau Firman Tuhan adalah “tongkat kekuatan” bagi raja dan bangsa Israel, sehingga mereka tidak menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri.

Seperti halnya tongkat di tangan sang gembala, demikianlah fungsi firman Tuhan itu bagi umat gembalaan Allah. Firman itu berguna untuk menuntun, mengarahkan, dan melindungi segenap bangsa Israel. Seperti kuk yang dipasang melintang dibahu dua sapi dan terikat di leher mereka, demikianlah firman Tuhan dipakai untuk mengarahkan mereka sesuai kemauan sang pembajak, Tuhan kita.

Firman Tuhan adalah “tongkat kekuatan”, yang menuntun, mengarahkan, dan melindungi segenap umatNya untuk takut akan Tuhan.

(Hery Setyo Adi, penulis artikel ini, menggunakan rujukan dari berbagai sumber)

Kuat dan Kuasa

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “kuasa” dan “kuat” (dengan berbagai variasi seperti berdaya, dahsyat, kokoh) dalam beberapa ayat Alkitab terbitan LAI merupakan padanan dari kata Ibrani ‘oz (ayin – holem-waw – zayin). Kata ‘oz yang dipadankan dengan kata “kuasa” sedikitnya terdapat dalam ayat-ayat berikut: Ayub 12:16; Mazmur 62:12; 68:35, dan 36. Sedangkan pemadanan dengan kata “kuat” antara lain terdapat dalam ayat-ayat berikut ini: 1 Tawarikh 16:27; Mazmur 8:3; 28:8; 29:11; 93:1; 96:6; 140:8; Amsal 18:10; dan Yesaya 51:9.

Pada awalnya, setiap huruf Ibrani berupa suatu gambar, yang melambangkan ide tertentu. Karena tulisan itu berupa gambar, maka di kemudian hari tulisan itu disebut “tulisan-gambar” atau piktograf.

Kata ‘oz dibentuk dari akar kata induk ‘z (ayin-zayin). Dalam piktograf Ibrani kuno huruf “ayin” adalah gambar mata yang di antaranya melambangkan ide “pengetahuan”. Sedangkan huruf “zayin” adalah gambar peralatan memotong. Gabungan dua gambar tersebut berarti “mengetahui suatu senjata”.

Pengetahuan tentang senjata merupakan salah satu materi pokok dalam bidang kemiliteran. Pasukan perang harus mengetahui senjata yang dimilikinya, baik jumlah, kecanggihan, maupun cara memakainya. Pengetahuan tentang senjata yang dimilikinya, tidak cukup. Senjata lawan pun harus diketahuinya. Tujuannya, pasukan perang tersebut dapat memperhitungkan kekuatan lawan, yang di antaranya dilihat dari kekuatan senjatanya.

Orang yang mengetahui senjata, dialah yang kuat . Karena kuat, dia pula yang akan berkuasa. Itulah prinsip yang dipegang di bidang kemiliteran sejak zaman lampau. Hal itu membuat masuk akal bagi orang Ibrani kuno yang menghubungkan ide “kuasa” dan “kuat” dengan dua piktograf yang melambangkan makna “mengetahui suatu senjata”.

Tuhan adalah Sumber Kuasa dan Kekuatan

Kekuasaan dan kekuatan manusia bersumber dari Tuhan. Tuhan adalah kekuatan (‘oz) umatNya (Mazmur 28:8). Dia pula asal kuasa (‘oz) (Mazmur 62:12).

Jika “mengetahui suatu senjata” bersumber dari Tuhan, maka pengetahuan itu pasti akurat. Manusia yang rentan dan lemah itu, berubah menjadi kuat dan berkuasa. Karenanya, tidaklah mengherankan Pemazmur menyampaikan pujian, begini: “Ya ALLAH, Tuhanku, kekuatan keselamatanku, Engkau menudungi kepalaku pada hari pertarungan senjata” (Mazmur 140:8).

Mari kita memuji sumber kekuatan dan kuasa itu, yakni Tuhan!

(Penulis: Hery Setyo Adi. Artikel ini menggunakan rujukan dari berbagai sumber)

Tuhan “Memanggil”

•February 4, 2009 • Leave a Comment

Kata “memanggil” di antaranya merupakan padanan dari kata Ibrani qara’ (qof-qames-resh-qames-alef). Kata tersebut diturunkan dari akar induk kata “q-r” (qof-resh), yang di dalam tulisan Ibrani kuno masing-masing huruf membawa ide tertentu. Huruf “qof” adalah sebuah gambar matahari di ufuk barat (atau timur?) dan berarti juga pengumpulan cahaya. Sedangkan huruf “resh” adalah gambar kepala seorang laki-laki. Gabungan dua gambar tersebut berarti “mengumpulkan orang-orang”.

Dalam kebudayaan Ibrani seseorang mengumpulkan orang-orang dan barang dengan cara: (1) perencanaan (2) kebetulan, dan (3) pembelian. Biasanya, orang-orang dipanggil untuk suatu pertemuan yang telah direncanakan sebelumnya, namun tidak jarang juga terjadi secara kebetulan. Sedangkan pengumpulan barang kekayaan dilakukan seseorang dengan cara membeli, termasuk budak sebagai barang kekayaan keluarga.

Dalam terang Firman Tuhan, Tuhan “memanggil” (qara ’ = ”mengumpulkan orang-orang”) orang-orang tertentu berlaku dua cara, yaitu dengan cara direncanakan dan cara pembelian.

Pertama, Tuhan “mengumpulkan orang-orang” bukannya karena kebetulan. Dia merencanakan orang-orang yang dipanggilNya dan menetapkan tujuanNya. Sebelum Paulus menjadi hamba Tuhan, ia adalah penganiaya jemaat. Namun, sebenarnya ia telah dipilih Tuhan sejak dalam kandungan dan dipanggil oleh karena kasih karuniaNya (Galatia 1:15). Paulus dipanggil untuk tujuan Tuhan, yaitu memberitakan namaNya kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja dan orang-orang Israel (Kisah Para Rasul 9:15).

Kedua, Tuhan “mengumpulkan orang-orang” dengan cara pembelian. Orang yang dikumpulkan dengan cara pembelian adalah budak atau hamba. Hal tersebut biasa berlaku dalam kebudayaan timur tengah kuno. Budak dibeli dari seseorang atau sekelompok orang. Mereka diperjualbelikan di antara pedagang, sebagaimana barang (Kejadian 37:28). Bahkan, kepemilikan budak dalam suatu keluarga menjadi ukuran kekayaan (Kejadian 24:35). Budak yang dibeli akan menjadi milik tuannya.

Jemaat Korintus, baik sebelumnya hamba atau orang bebas, telah dipanggil Tuhan dalam pelayananNya. Mereka telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Mereka milik Tuhan. Karena itu, mereka adalah hamba Tuhan, bukan hamba manusia (bandingkan 1 Korintus 7:22-23).

Implikasi

Pertama, Tuhan telah mengumpulkan kita, orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, dengan perencanaan. Kita adalah orang-orang yang dikumpulkanNya sesuai dengan rencanaNya untuk tujuan yang ditetapkanNya. Apakah rencana dan tujuan hidup kita sudah sesuai dengan rencana dan tujuan Tuhan?

Kedua, Tuhan telah mengumpulkan kita dengan cara dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Kita ini milik Tuhan. Oleh karena itu kita tidak memiliki hak lagi atas tubuh, pikiran, kreatifitas, kemampuan sosial, daya kerja, dan lain-lain. Segala hal yang kita miliki, bahkan segala keberadaan kita, menjadi milik Tuhan dan menjadi kekayaan Tuhan. Apakah segala sesuatu yang melekat pada diri kita masih kita kuasai menjadi hak milik dan kekayaan kita, atau telah menjadi hak milik dan kekayaan Tuhan? Lihat, betapa berharganya kita ini, kalau segala sesuatu yang melekat pada diri kita menjadi kekayaan Tuhan!

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan dari berbagai sumber)

Berjalan

•January 26, 2009 • Leave a Comment

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,

aku tidak takut bahaya,

sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu,

itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

Kata Ibrani “halak” (he-qames-lamed-patah-kaf) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara lain dengan kata “berjalan”. Kata tersebut diturunkan dari akar induk kata “l-k” (lamed-kaf). Dalam piktogram Ibrani kuno, huruf “lamed” adalah gambar tongkat gembala, sedangkan huruf “kaf” adalah gambar telapak tangan. Gabungan dua gambar tersebut berarti “tongkat di telapak tangan”.

Pada zaman kuno, seorang pengembara menempuh perjalanan darat di antaranya dengan berjalan kaki. Mereka bisa berjalan berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk pergi ke suatu tempat dan pulang ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan mereka melewati berbagai rintangan, antara lain: sungai, padang gurun, bukit batu, pegunungan, lembah, semak-semak, perkampungan penduduk, dan ladang.

Perjalanannya juga penuh bahaya. Binatang buas, musuh, dan penyamun atau perampok mengintai mereka. Setiap saat bahaya bisa datang dan maut mengancamnya.

Apa perlengkapan yang biasa dibawa oleh sang pengembara ini? Dia biasanya membawa tongkat gembala di tangannya. Tongkat ini dipakainya sebagai penopang tubuhnya saat berjalan. Dalam keadaan tertentu tongkat dipakai pula untuk melindungi diri dari musuh (binatang atau pun manusia). Ia merupakan senjata yang praktis untuk membunuh ular dan binatang buas yang lain.

Dengan demikian makna “berjalan” dalam konsep orang Ibrani kuno lekat dengan “tongkat di telapak tangan”. Seolah-olah mereka tidak dapat berjalan kalau tidak ada tongkat di telapak tangannya. Saat mereka berjalan, mereka harus membawa penopang bagi tubuhnya dan senjata bagi dirinya, sehingga mereka selamat dan sampai di tempat tujuan.

Mazmur 23

Daud, sang pemazmur, menyatakan iman dan pengalamannya bersama Allah, yang menjadi gembalanya.

Daud tidak merasa takut “berjalan” di lembah kekelaman, sebab gembala yang menuntunnya memegang tongkat di telapak tangannya. Ada alat yang menopang ketika gembalanya keletihan dan ada senjata yang melindunginya ketika dia menghadapi musuh. Daud berjalan bersama sang gembala yang memiliki penopang dan senjata.

Sang gembala berjalan dengan tongkat di telapak tangannya, sehingga perjalanannya aman dan dirinya selamat. Bahkan, binantang-binatang gembalaannya pun merasa aman dan selamat dari musuh.

Anda mau aman dan selamat dalam perjalanan kehidupan Anda? Bahkan orang lain pun aman dan selamat berjalan dengan Anda? Teladanilah sang gembala, yang senantiasa membawa “tongkat di telapak tangannya”! Tongkat itu yang akan menjadi penopang dan senjata dalam hidup Anda.

Tongkat adalah senjata bagi orang kuno. Milikilah Firman Allah, karena FirmanNya adalah senjata dari Allah! (bandingkan Efesus 6:17).

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel dengan judul “Berjalan” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik “Gali Kata Alkitab” edisi 28, Rabu 15 September 2008 dari nomor HP 085294397157. Berbagai sumber dipakai sebagai rujukan tulisan ini)

Bersyukur

•January 26, 2009 • Leave a Comment

Kata “bersyukur” merupakan terjemahan dari kata “yadah” (yod-qames-dalet-qames-he) dalam bahasa Ibrani. Dalam definisi berbahasa Inggris, kata Ibrani “yadah” tersebut memiliki banyak terjemahan selain bersyukur atau memuji, seperti: melempar, meruntuhkan, menjatuhkan, menembak, mengaku, dan memberi terima kasih.

Apa arti kata “bersyukur” tersebut ditinjau dari tulisan Ibrani kuno? Untuk mengetahui makna kata itu, kita dapat menelusurinya dari akar katanya. Akar induk kata “yadah” adalah “y-d” (yod-dalet), yang dalam tulisan Ibrani kuno berupa gambar (piktograf) “tangan” dan “pintu”. Tangan adalah bagian tubuh yang memampukan seseorang melakukan banyak pekerjaan. Sedangkan pintu adalah bagian tenda yang memungkinkan penghuninya bergerak keluar-masuk tenda. Dengan demikian gabungan dua gambar tersebut berarti “tangan bergerak”.

Kata “bersyukur” banyak digunakan dalam Kitab Mazmur dalam beragam kaitan. Pemazmur mengaitkannya dengan “alasan” ia bersyukur, seperti: karena keadilan (7:17), pertolongan (28:7; 43:5), keajaiban perbuatan (9:1; 75:2; 107:8), dan kasih setia Tuhan (107:8).

Namun, pemazmur juga menghubungkannya dengan suatu “tindakan” untuk bersyukur tersebut. Misalnya: Mazmur 9:1, Daud menghubungkan rasa syukurnya dengan menceritakan segala perbuatan Allah yang ajaib. Mazmur 28:7, ia bersyukur dengan nyanyian kepada Tuhan. Dalam Mazmur 43:4 pemazmur bersyukur dengan alat musik kecapi. Sedangkan pasal 118:28, pemazmur mau bersyukur kepada Allah dengan meninggikan Dia.

Kata “bersyukur” berkaitan dengan tindakan seseorang kepada Allah karena alasan-alasan yang jelas dari pihak Allah. Dengan makna “bersyukur” adalah “tangan bergerak” atau “bekerja”, bukankah hal ini memperjelas kita bahwa ungkapan “bersyukur” kepada Allah harus diwujudkan dengan bekerja?

Mari kita “bersyukur” kepada Tuhan dengan “bekerja” supaya Tuhan dimuliakan!

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel dengan judul “Bersyukur” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik “Gali Kata Alkitab” edisi 27, Rabu 8 September 2008 dari nomor HP 085294397157. Berbagai sumber dipakai sebagai rujukan tulisan ini)