Menyembunyikan
Rahab telah “menyembunyikan” orang-orang suruhan bangsa Israel ketika mereka mengintai kota Yerikho (Yosua 6:17,25). Apa makna kata “menyembunyikan” ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?
Kata tersebut merupakan padanan dari kata Ibrani khaba’ (kata yang dibentuk dari rangkaian huruf-huruf Ibrani “khet-qames-bet-qames-alef”), yang diturunkan dari akar induk kata kh-b (khet-bet). Akar induk kata kh-b tersebut juga menurunkan kata yang lain khabab (khet-qames-bet-patah-bet) yang berarti “mengasihi” (misalnya Ulangan 33:3).
Huruf Ibrani modern “khet” dan “bet” merupakan perkembangan dari tulisan gambar (piktograf) Ibrani kuno yang melambangkan suatu ide tertentu. Huruf “khet” adalah sebuah gambar dinding tenda, sedangkan huruf “bet” adalah sebuah gambar denah ruangan dalam tenda, yang menjadi tempat tinggal (rumah) orang-orang Ibrani pada zaman kuno. Gabungan dua gambar tersebut berarti “dinding rumah”.
Dinding rumah terpasang mengelilingi rumah, yang memungkinkan rumah tersebut menjadi tempat berlindung bagi keluarga. Sebagai tempat perlindungan, rumah menyembunyikan seluruh keluarga dari situasi apa pun yang mengancam, seperti badai, binatang buas, dan lain-lain, atau bahkan orang-orang yang bermaksud jahat.
Rahab telah berlaku seperti “dinding rumah”, yakni menjadi tempat berlindung bagi orang-orang suruhan Israel dari ancaman tentara Yerikho. Oleh karena itu kata “bersembunyi” pada hakikatnya memiliki makna “berlindung”. Yesaya 49:2 misalnya, kata khaba’ dipadankan dengan kata “berlindung”.
Beberapa Penggunaan Kata Khaba’
Dalam Perjanjian Lama kata khaba’ digunakan beberapa kali, di antaranya dalam beberapa peristiwa berikut ini.
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, mereka “bersembunyi” dari hadapan Tuhan Allah (Kejadian 3:8, 10). Bayangkan, Tuhan Allah yang mestinya menjadi pelindung bagi mereka, tapi justru dianggapnya sebagai ancaman!
Lima raja yang dikalahkan Yosua, lari dan “bersembunyi” di dalam gua di Makeda (Yosua 10). Mereka mencari tempat berlindung karena jiwanya terancam oleh Yosua. Mereka bisa berlindung di dalam gua, tapi Allah tidak melindunginya. Akhirnya mereka semua mati, karena memang Allah telah menyerahkan mereka ke dalam tangan Yosua.
Pada waktu kelaparan hebat di Samaria ada seorang wanita “menyembunyikan” anaknya karena tiba gilirannya untuk memasak dan memakan anaknya itu (2 Raja-raja 6:29).
Yonatan memberitahukan maksud jahat ayahnya, Raja Saul,yang akan membunuh Daud. Lalu, ia menyarankan agar Daud “duduk di suatu tempat perlindungan dan bersembunyi di sana” (1 Samuel 19:2). Daud memang terancam jiwanya, tapi Allah melindunginya.
Obaja, sang nabi, “menyembunyikan” 100 nabi Tuhan dari upaya pembunuhan yang dilakukan Izebel (1 Raja-raja 18:4,13). Yoseba menyembunyikan Yoas bin Ahazia pada waktu Atalya membunuh semua keturunan raja. Yoas tinggal bersama Yoseba itu dengan “bersembunyi” di rumah Tuhan selama enam tahun (2 Raja-raja 11:3).
Tuhanlah Tempat Bersembunyi atau Berlindung
Dinding rumah atau pun gua, memang bisa menjadi tempat berlindung secara fisik. Tapi, apalah arti tempat-tempat seperti itu kalau Tuhan tidak menjadi tempat berlindungnya? Yesaya, sang nabi besar, telah dipanggil Tuhan sejak dalam kandungan. Ia paham betul bahwa Tuhan telah membuatnya “berlindung” (khaba’) dalam naungan tanganNya (Yesaya 49:2).
Tuhanlah “dinding rumah” atau tempat “bersembunyi” atau “tempat berlindung” bagi orang-orang yang mengasihinya. Sudahkan Dia kita jadikan tempat berlindung selama hidup kita?
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

Leave a Reply