Memperingatkan

Kata “memperingatkan” (dalam Keluaran 18:20 digunakan kata “mengajarkan”) merupakan padanan dari suatu kata Ibrani yang memiliki akar (cabang) kata zhr (baca: zahar, yang dibentuk dari huruf-huruf konsonan Ibrani “zayin-he-resh”). Akar cabang kata zhr tersebut diturunkan dari akar induk kata zr (zayin-resh).

Huruf “zayin” yang dikenal sebagai tulisan Ibrani modern, berasal dari huruf gambar (piktograf) yang berupa peralatan pertanian seperti cangkul atau bajak dan antara lain melambangkan makna panenan, sebagaimana alat ini dipakai untuk memanen. Sedangkan huruf “resh” merupakan gambar kepala seorang laki-laki. Gabungan dua gambar tersebut berarti “panenan kepala butir”.

Apa hubungan antara kata “memperingatkan” dengan makna harfiah zr yang berarti “panenan kepala butir”?

Setelah butir dipanen, butir itu akan dibuka dengan cara memecahkannya. Pemisahan antara kulit atau sekam dengan biji tersebut dilakukan dengan cara menampi. Kulit atau sekam akan terbawa angin, sedangkan butir itu karena lebih berat dari kulitnya, akan jatuh ke bawah. Seorang pemanen akan mengumpulkan biji-biji tersebut. Butir-butir yang telah terpisah dari kulit atau sekam inilah yang merupakan hasil panenan yang utama.

Dengan demikian, kata “memperingatkan” berarti suatu upaya untuk memisahkan sesuatu yang berharga dengan sesuatu yang tidak berharga, sebagaimana memisahkan antara sekam dan butir dari hasil panenan, untuk mendapatkan hasil yang utama.

Firman Tuhan yang Memperingatkan

Hidup umat Tuhan dapat terancam oleh kesesatan dan pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Bagaimana mereka dapat terbebas dari hal-hal seperti itu? Pemazmur mengajar, bahwa Taurat Tuhanlah yang dijadikannya pegangan dan dialah yang memperingatkannya. Mengapa? Sebab Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa, teguh, memberi hikmat, tepat, menyukakan hati, murni, membuat mata bercahaya, benar, adil, indah, dan manis (Mazmur 19:8-14).

Sebagaimana Taurat Tuhan itu memperingatkan pemazmur, begitu juga ia memperingatkan kita. Taurat atau Firman Tuhan itulah yang menjadi alat penampi bagi kita untuk memisahkan sesuatu yang berharga dengan sesuatu yang tidak berharga.

Sudahkah kita menggunakan Firman Tuhan sebagai alat penampi untuk memisahkan hal-hal berharga dan hal-hal tidak berharga dalam hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

~ by cheniuntajana on February 4, 2009.

Leave a Reply