Melindungi
“…Tuhan melindungi dia setiap waktu…” (Ulangan 33:12).
Kata “melindungi” di antaranya merupakan padanan dari kata Ibrani khopep. Kata ini dibentuk dari susunan huruf-huruf konsonan dan tanda vokal “khet-holem-pe-sere-pe”, yang diturunkan dari akar kata kh-p (khet-pe). Apa arti harfiah kata “melindungi” (khopep) ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?
Huruf “khet” dalam piktograf Ibrani kuno merupakan gambar dinding tenda. Huruf “pe” adalah gambar mulut terbuka yang berarti “membuka”. Gabungan dua gambar tersebut berarti “dinding terbuka”. Apa maksudnya?
Dinding tenda yang terbuka memungkinkan orang lain memasukinya. Jika dinding tenda itu ditutup kembali, maka orang yang telah berada di dalamnya mendapatkan perlindungan dari si pemilik tenda. Dia aman. Sang pemilik tenda melindunginya dengan segala resiko.
Itulah tradisi melindungi orang asing dalam budaya Ibrani kuno. Tradisi seperti ini masih terlihat kisahnya di Alkitab seperti dalam peristiwa Lot yang melindungi kedua tamunya dengan menawarkan kedua anak gadisnya (Kejadian 19:4-8), atau pun kisah perbuatan noda di Gibea (Hakim-hakim 19:22-24).
Apakah Tuhan memang Melindungi?
Kasus suku Benyamin (Hakim-hakim 19-20) menjawab dengan jelas pertanyaan itu. Mereka pernah memiliki sejarah kelam di antara saudara-saudaranya. Mereka berbuat noda, membayar harga dengan diperangi dan ditumpas oleh saudara-saudaranya sendiri, tapi juga ditolong Tuhan.
Tragedi itu dimulai ketika seorang suku Lewi dan gundiknya bermalam di salah seorang Benyamin di Gibea. Tapi orang-orang dursila Gibea mengepung rumah tersebut untuk menjahati seorang Lewi itu. Akhirnya, gundik orang itu dibawa dan diperkosa mereka sampai mati. Peristiwa tersebut dikomunikasikan kepada suku-suku Israel dengan cara unik, yaitu memutilasi tubuh mayat itu menjadi dua belas potongan dan mengirimkannya ke suku-suku Israel. Kesebelas suku Israel menjadi marah dan berkeputusan untuk memerangi suku Benyamin, saudaranya. Apalagi, suku Benyamin tidak mau menyerah orang-orang dursila Gibea Kisah tersebut berakhir dengan ditumpasnya seluruh suku Benyamin dan kota-kotanya dibakar. Ada sisa, memang, sejumlah enam ratus orang yang lari di bukit batu Rimon.
Mereka ditumpas dan kota-kotanya dibakar habis karena Tuhan menyerahkan suku Benyamin tersebut kepada sebelas suku yang lain. Tapi, bagaimana Tuhan melindungi suku Benyamin sehingga mereka tidak punah?
Keputusan Israel untuk memaklumkan damai bagi orang Benyamin yang tersisa yang melarikan diri ke bukit batu Rimon dan belas kasihan mereka untuk memberikan gadis-gadis Yabesh-Gilead dan perempuan Silo merupakan cara Tuhan melindungi kemusnahan suku itu. Sisa penduduk yang sedikit itu masih dapat menurunkan keturunan. Ulangan 33:12, bahwa Tuhan melindungi suku itu setiap waktu, terbukti.
Suku Benyamin telah berbuat jahat dan beresiko mempertaruhkan nyawa penduduk dan kotanya, namun Tuhan masih “melindungi” (khopep) mereka. Sebagaimana diperlakukan Tuhan terhadap suku itu, begitu juga Tuhan memperlakukan saya dan Anda. Kita masih dan mungkin sering berbuat jahat di hadapan Tuhan. Kita masih berbuat dosa dan menaggung resiko di dunia ini. Tapi, Tuhan juga tetap “melindungi” kita. Mari kita terus kagum dan bersyukur kepadaNya yang senantiasa “melindungi” kita!
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

Leave a Reply