KesetiaanNya tetap “Turun-temurun”

“Sebab TUHAN itu baik,

kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,

dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”

(Maz 100:5).

Mazmur 100:5 merupakan kesaksian Pemazmur mengenai kasih setia Tuhan yang berlangsung terus turun-temurun, dari generasi ke generasi. Apa makna awal kata “turun-temurun” dari kajian tulisan Ibrani kuno?

Kata “turun-temurun” dipadankan dengan kata Ibrani dor (dalam tulisan Ibrani kata tersebut disusun dari huruf-huruf dan tanda vokal Ibrani: dalet dagesh lene-holem waw-resh). Kata dor diturunkan dari akar induk kata dr (dalet-resh). Huruf Ibrani modern “dalet” dan “resh” serta huruf-huruf Ibrani yang lain, berasal dari gambar-gambar yang melambangkan makna tertentu sesuai dengan cara berpikir dan budaya orang Ibrani kuno.

Huruf “dalet” (d) adalah gambar pintu tenda yang berupa tabir atau gorden yang tergantung. Sebagaimana gorden yang tergantung, jika dilewati seseorang, maka gorden tersebut akan bergerak maju dan kemudian mundur lagi setelah orang itu melewatinya. Karena itu, orang Ibrani menggambarkan ide gerakan maju mundur dengan simbol pintu. Sedangkan huruf “resh” (r) adalah gambar kepala seorang laki-laki yang antara lain berarti “orang”. Jadi gabungan gambar pintu dan kepala seorang laki-laki tersebut berarti “gerakan maju-mundur orang laki-laki” atau “gerakan mondar-mandir orang laki-laki”.

Bagi orang Ibrani, satu generasi merupakan satu perputaran garis keluarga. Seseorang lahir, hidup, lalu mati, sebagai satu siklus dalam hidupnya. Namun, sebelum ia mati, ia menurunkan anak. Anak inilah yang melanjutkan siklus kehidupan tersebut, sehingga garis keluarganya berlanjut. Oleh karena itu siklus kehidupan seseorang dalam sebuah keluarga menjadi satu putaran dari sekian banyak putaran dalam keseluruhan garis keluarganya.

Dengan demikian kata “turun-temurun” mengandung makna: (1) berlangsung dalam setiap siklus hidup masing-masing generasi, (2) berkelanjutan dari generasi ke generasi, (3) berlangsung dalam seluruh garis keluarga.

Implikasi

Mari kita merenungkan, bahwa kesetiaan Tuhan itu tidak pernah berhenti pada satu siklus hidup seseorang, atau satu generasi. Tapi, kesetiaanNya itu berlangsung terus sepanjang generasi dalam keseluruhan garis keluarga. Saya dan Anda yang mewakili generasi dari garis keluarga kita masing-masing telah mendapatkan kesetiaan Tuhan. Namun jangan lupa bahwa generasi di atas kita, yaitu generasi-generasi yang melahirkan kita, sehingga kita menjadi ada, telah mendapatkan kesetiaan Tuhan. Tuhan menjagai kita sejak generasi-generasi yang mendahului kita ada di dunia ini.

Anda bisa menghitung jumlah generasi dalam garis keluarga Anda sendiri. Jika usia bumi ini 6000 tahun dan setiap generasi itu 30 tahun, maka sejak manusia diciptakan Tuhan hingga generasi kita sudah ada sekitar 200 generasi. Bayangkan, Tuhan sudah memberikan kesetiaanNya sepanjang 200 generasi dalam garis keluarga kita masing-masing dan entah berapa generasi lagi sebelum Yesus datang keduakali. Bukankah ini bukti kesetiaan Tuhan yang tidak ada habis-habisnya? Jadi, adakah alasan untuk mengkhawatirkan hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan)

~ by cheniuntajana on February 4, 2009.

Leave a Reply