“Pengenalan” akan Tuhan

Kata Ibrani da’at (ditulis dengan huruf-huruf konsonan dan tanda-tanda bunyi: “dalet-dagesh lene-patah-ayin-patah-taw”) di antaranya dipadankan dengan kata “pengenalan” dan “pengetahuan”. Kata itu diturunkan dari akar induk kata d’ (“dalet-ayin”). Kata de’ah (Gali Kata Alkitab edisi 18), yang berarti “tahu”, juga turunan dari akar induk kata tersebut.

Dalam tulisan Ibrani kuno, huruf “dalet” merupakan gambar sebuah pintu, sedangkan huruf “ayin” merupakan gambar sebuah mata. Gabungan dua gambar tersebut berarti “pintu mata”. Apa makna “pintu mata” tersebut?

Tenda orang Ibrani tidak memiliki jendela. Untuk melihat keadaan di luar tenda, seseorang harus berdiri di pintu tenda yang terbuka danmendongakkan kepalanya ke luar tenda. Pintu adalah satu-satunya celah untuk bisa melihat dunia di luar tenda. Dengan melihat dunia di luar tenda, seseorang akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Pengalaman dan pengetahuan itu sangat mendalam, sebab ia mengamati dengan matanya sendiri itu. Bahkan, jika ia melihat orang lain dengan matanya sendiri, maka ia akan memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengannya.

Dengan demikian kata da’at (pengenalan atau pengetahuan) berarti melihat dengan matanya sendiri untuk memperoleh ide atau pengalaman dan hubungan pribadi yang mendalam.

Pengenalan Paulus dan Petrus

Kata “pengenalan” dalam 2 Korintus 2:14, 10:5; Filipi 3:8; 2 Petrus 1:2. 1:3, 2:20, dan 3:18 berpadanan dengan kata da’at dalam bahasa Ibrani (Lihat: terjemahan Salkinson-Ginsburg Hebrew New Testament).

Dalam 2 Korintus 2:14, Paulus menghubungkan antara “jalan kemenangan”,“pengenalan akan Allah”, dan “dalam Kristus”. Paulus bersyukur kepada Allah karena Dia selalu membawa dirinya (dan Timotius) di jalan kemenanganNya. Maksudnya, bahwa dengan perantaraan mereka “Allah menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia”. Uniknya, hal itu terjadi dalam Kristus (ayat 14).

Pengenalan akan Allah, bagi Paulus,adalah pokok yang penting dan bersifat ilahi. Oleh karenanya, Paulus “mematahkan” dan “merubuhkan” keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah tersebut (2 Korintus 10:5). Sedangkan senjata yang dipakai berjuang pun bukanlah senjata duniawi. Senjata Paulus adalah senjata yang diperlengkapi kuasa Allah (ayat 4).

Karena “pengenalan” akan Kristus pula, Paulus memiliki nilai baru: “segala sesuatu kuanggap rugi”, “aku melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah”. Paulus menganggap “Yesus Kristus, Tuhanku, lebih mulia” (Filipi 3:8). Apa yang ia lepaskan dan dianggapnya tidak berharga lagi? Dalam ayat 4-6 Paulus menjelaskan semuanya itu, yaitu: menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah, yaitu:

“Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”.

Sedangkan Rasul Petrus menyatakan beberapa pokok yang berkaitan dengan pengenalan akan Allah dan Yesus. Dalam pengenalan akan Allah, kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi orang-orang percaya (2 Petrus 1:2). Hidup saleh (2 Petrus 1:3) dan lepas dari kecemaran dunia (2 Petrus 2:20) terjadi oleh pengenalan akan Tuhan. Karena itu Petrus menasihati orang-orang percaya agar bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Yesus Kristus (2 Petrus 3:18).

Implikasi

“Pengenalan” dan “pengetahuan” (da’at) terjadi karena melihat dengan mata sendiri. Dalam hubungannya dengan pribadi lain, jika seseorang melihat dengan mata sendiri, maka ia akan memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan orang itu.

Bagaimana dengan kehidupan iman kita? Apakah kita telah “melihat dengan mata sendiri” segala sesuatu yang Tuhan Yesus kerjakan dalam diri kita? Jika jawabnya “ya”, maka kita akan memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan Dia. Sebaliknya, jika jawabnya “tidak”, maka kita tidak dijamin telah memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan Dia.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

~ by cheniuntajana on February 4, 2009.

Leave a Reply