IBU
Kata “ibu” berasal dari bahasa Ibrani ‘em (alef-sere-mayim). Kata ini dijumpai pertama kali dalam Kejadian 2:24 ‘immo, yang berarti “ibunya”. Kata ‘em, sebelum tanda huruf hidup diciptakan untuk menyempurnakan tulisan Ibrani, ditulis dengan dua huruf mati “alef” dan “mayim”. Dalam piktograf (tulisan gambar) Ibrani kuno, “alef” adalah gambar kepala sapi jantan yang melambangkan “kekuatan”, sedangkan “mayim” adalah gambar air yang membawa ide “air” atau “cairan”. Dengan demikian gabungan piktograf “alef-mayim” (yang diterjemahkan “ibu”) membawa ide “cairan yang kuat”.
Apa yang dimaksud “cairan yang kuat” itu? Ide tersebut dapat dipahami dengan mengaitkan pengenalan orang Ibrani terhadap lem (perekat). Mereka memiliki teknologi pembuatan lem, begini: kulit binatang atau bagian-bagian tubuh lain dari binatang dicampur dengan air dan direbus sampai mendidih. Setelah itu di bagian permukaan akan muncul suatu unsur yang lengket tebal seperti pasta. Bagian itu lalu diambil dan dipindahkan ke tempat lain dan orang Ibrani menggunakannya sebagai perekat. Itulah arti “ibu” yang membawa ide “cairan yang kuat” (perekat).
Ibu memiliki peran yang unik di tengah keluarga. Perannya berbeda dengan bapak. Bapak memiliki peran sebagai “kekuatan keluarga” (lihat artikel “Bapak” dalam Gali Kata Alkitab Edisi 4, Rabu 26 April 2008). Sedangkan ibu, berperan sebagai perekat bagi para anggota keluarga. Peran itu dijalankan melalui pekerjaan dan kasihnya. Jika sang ibu tidak menjalankan peran sebagai perekat, maka tidak mustahil keluarga itu akan tercerai berai.
Dalam Perjanjian Lama, Ribka adalah contoh seorang ibu yang tidak menjalankan perannya sebagai perekat dalam keluarga (lihat Kejadian 25:28). Sebagai seorang ibu, Ribka hanya mengasihi salah satu dari dua anaknya, yakni Yakub. Kesalahan yang sama dilakukan Ishak. Ia mengasihi Esau saja. Dari sinilah awal prahara keluarga itu. Ishak, Ribka, Esau, dan Yakub sebagai anggota keluarga mestinya solid. Namun kenyataannya keluarga itu terpecah menjadi dua blog: blog Ishak-Esau dan Ribka-Yakub. Di sinilah kegagalan Ribka yang tidak berperan sebagai “perekat” bagi keluarga, dan juga Ishak yang tidak menjadi “kekuatan keluarga”.
Menarik kita simak, kata “ibu” tidak hanya bermakna jasmaniah, tapi juga metaforis. Dalam Perjanjian Baru, makna kedua ini muncul. Tuhan Yesus menyebut orang yang melakukan kehendak Allah adalah ibuNya (Markus 3:35). Siapa yang disebut melakukan kehendak Allah? Tidak lain adalah orang-orang yang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi (bdk. Yohanes 6:29). Jika jemaat Tuhan disebut “ibu”, maka seyogianya umat Tuhan itu menjadi “perekat” antara satu dengan yang lain.
Implikasi
Dalam kehidupan berkeluarga, ibu berperan sebagai perekat bagi semua anggota keluarga. Oleh karena itu mari kita renungkan: apakah kesibukan, karir, pelayanan, dan lain-lain aktifitas sang ibu justru merenggangkan atau bahkan memecahbelah hubungan antaranggota keluarga? Jika jawabnya “ya”, maka cepat atau lambat, runtuhlah keluarga yang kita bangun itu. Dalam kehidupan berjemaat, apakah jemaat Tuhan atau gereja sudah berperan sebagai “ibu” bagi anggotanya? Apakah persekutuan orang-orang percaya itu telah berperan sebagai “perekat” bagi anak-anak Tuhan yang ada di dalamnya? Jika jawabnya “ya”, maka anak-anak Tuhan akan semakin “betah” berada di antara anggota-anggota jemaat yang lain.
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel dengan judul “Ibu” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS “Gali Kata Alkitab” edisi ke-5, Rabu 2 April 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber dipakai sebagai acuan untuk tulisan ini)

Leave a Reply