h1

Melindungi

Februari 4, 2009

“…Tuhan melindungi dia setiap waktu…” (Ulangan 33:12).

Kata “melindungi” di antaranya merupakan padanan dari kata Ibrani khopep. Kata ini dibentuk dari susunan huruf-huruf konsonan dan tanda vokal “khet-holem-pe-sere-pe”, yang diturunkan dari akar kata kh-p (khet-pe). Apa arti harfiah kata “melindungi” (khopep) ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?

Huruf “khet” dalam piktograf Ibrani kuno merupakan gambar dinding tenda. Huruf “pe” adalah gambar mulut terbuka yang berarti “membuka”. Gabungan dua gambar tersebut berarti “dinding terbuka”. Apa maksudnya?

Dinding tenda yang terbuka memungkinkan orang lain memasukinya. Jika dinding tenda itu ditutup kembali, maka orang yang telah berada di dalamnya mendapatkan perlindungan dari si pemilik tenda. Dia aman. Sang pemilik tenda melindunginya dengan segala resiko.

Itulah tradisi melindungi orang asing dalam budaya Ibrani kuno. Tradisi seperti ini masih terlihat kisahnya di Alkitab seperti dalam peristiwa Lot yang melindungi kedua tamunya dengan menawarkan kedua anak gadisnya (Kejadian 19:4-8), atau pun kisah perbuatan noda di Gibea (Hakim-hakim 19:22-24).

Apakah Tuhan memang Melindungi?

Kasus suku Benyamin (Hakim-hakim 19-20) menjawab dengan jelas pertanyaan itu. Mereka pernah memiliki sejarah kelam di antara saudara-saudaranya. Mereka berbuat noda, membayar harga dengan diperangi dan ditumpas oleh saudara-saudaranya sendiri, tapi juga ditolong Tuhan.

Tragedi itu dimulai ketika seorang suku Lewi dan gundiknya bermalam di salah seorang Benyamin di Gibea. Tapi orang-orang dursila Gibea mengepung rumah tersebut untuk menjahati seorang Lewi itu. Akhirnya, gundik orang itu dibawa dan diperkosa mereka sampai mati. Peristiwa tersebut dikomunikasikan kepada suku-suku Israel dengan cara unik, yaitu memutilasi tubuh mayat itu menjadi dua belas potongan dan mengirimkannya ke suku-suku Israel. Kesebelas suku Israel menjadi marah dan berkeputusan untuk memerangi suku Benyamin, saudaranya. Apalagi, suku Benyamin tidak mau menyerah orang-orang dursila Gibea Kisah tersebut berakhir dengan ditumpasnya seluruh suku Benyamin dan kota-kotanya dibakar. Ada sisa, memang, sejumlah enam ratus orang yang lari di bukit batu Rimon.

Mereka ditumpas dan kota-kotanya dibakar habis karena Tuhan menyerahkan suku Benyamin tersebut kepada sebelas suku yang lain. Tapi, bagaimana Tuhan melindungi suku Benyamin sehingga mereka tidak punah?

Keputusan Israel untuk memaklumkan damai bagi orang Benyamin yang tersisa yang melarikan diri ke bukit batu Rimon dan belas kasihan mereka untuk memberikan gadis-gadis Yabesh-Gilead dan perempuan Silo merupakan cara Tuhan melindungi kemusnahan suku itu. Sisa penduduk yang sedikit itu masih dapat menurunkan keturunan. Ulangan 33:12, bahwa Tuhan melindungi suku itu setiap waktu, terbukti.

Suku Benyamin telah berbuat jahat dan beresiko mempertaruhkan nyawa penduduk dan kotanya, namun Tuhan masih “melindungi” (khopep) mereka. Sebagaimana diperlakukan Tuhan terhadap suku itu, begitu juga Tuhan memperlakukan saya dan Anda. Kita masih dan mungkin sering berbuat jahat di hadapan Tuhan. Kita masih berbuat dosa dan menaggung resiko di dunia ini. Tapi, Tuhan juga tetap “melindungi” kita. Mari kita terus kagum dan bersyukur kepadaNya yang senantiasa “melindungi” kita!

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

“Pengenalan” akan Tuhan

Februari 4, 2009

Kata Ibrani da’at (ditulis dengan huruf-huruf konsonan dan tanda-tanda bunyi: “dalet-dagesh lene-patah-ayin-patah-taw”) di antaranya dipadankan dengan kata “pengenalan” dan “pengetahuan”. Kata itu diturunkan dari akar induk kata d’ (“dalet-ayin”). Kata de’ah (Gali Kata Alkitab edisi 18), yang berarti “tahu”, juga turunan dari akar induk kata tersebut.

Dalam tulisan Ibrani kuno, huruf “dalet” merupakan gambar sebuah pintu, sedangkan huruf “ayin” merupakan gambar sebuah mata. Gabungan dua gambar tersebut berarti “pintu mata”. Apa makna “pintu mata” tersebut?

Tenda orang Ibrani tidak memiliki jendela. Untuk melihat keadaan di luar tenda, seseorang harus berdiri di pintu tenda yang terbuka danmendongakkan kepalanya ke luar tenda. Pintu adalah satu-satunya celah untuk bisa melihat dunia di luar tenda. Dengan melihat dunia di luar tenda, seseorang akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Pengalaman dan pengetahuan itu sangat mendalam, sebab ia mengamati dengan matanya sendiri itu. Bahkan, jika ia melihat orang lain dengan matanya sendiri, maka ia akan memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengannya.

Dengan demikian kata da’at (pengenalan atau pengetahuan) berarti melihat dengan matanya sendiri untuk memperoleh ide atau pengalaman dan hubungan pribadi yang mendalam.

Pengenalan Paulus dan Petrus

Kata “pengenalan” dalam 2 Korintus 2:14, 10:5; Filipi 3:8; 2 Petrus 1:2. 1:3, 2:20, dan 3:18 berpadanan dengan kata da’at dalam bahasa Ibrani (Lihat: terjemahan Salkinson-Ginsburg Hebrew New Testament).

Dalam 2 Korintus 2:14, Paulus menghubungkan antara “jalan kemenangan”,“pengenalan akan Allah”, dan “dalam Kristus”. Paulus bersyukur kepada Allah karena Dia selalu membawa dirinya (dan Timotius) di jalan kemenanganNya. Maksudnya, bahwa dengan perantaraan mereka “Allah menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia”. Uniknya, hal itu terjadi dalam Kristus (ayat 14).

Pengenalan akan Allah, bagi Paulus,adalah pokok yang penting dan bersifat ilahi. Oleh karenanya, Paulus “mematahkan” dan “merubuhkan” keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah tersebut (2 Korintus 10:5). Sedangkan senjata yang dipakai berjuang pun bukanlah senjata duniawi. Senjata Paulus adalah senjata yang diperlengkapi kuasa Allah (ayat 4).

Karena “pengenalan” akan Kristus pula, Paulus memiliki nilai baru: “segala sesuatu kuanggap rugi”, “aku melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah”. Paulus menganggap “Yesus Kristus, Tuhanku, lebih mulia” (Filipi 3:8). Apa yang ia lepaskan dan dianggapnya tidak berharga lagi? Dalam ayat 4-6 Paulus menjelaskan semuanya itu, yaitu: menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah, yaitu:

“Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”.

Sedangkan Rasul Petrus menyatakan beberapa pokok yang berkaitan dengan pengenalan akan Allah dan Yesus. Dalam pengenalan akan Allah, kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi orang-orang percaya (2 Petrus 1:2). Hidup saleh (2 Petrus 1:3) dan lepas dari kecemaran dunia (2 Petrus 2:20) terjadi oleh pengenalan akan Tuhan. Karena itu Petrus menasihati orang-orang percaya agar bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Yesus Kristus (2 Petrus 3:18).

Implikasi

“Pengenalan” dan “pengetahuan” (da’at) terjadi karena melihat dengan mata sendiri. Dalam hubungannya dengan pribadi lain, jika seseorang melihat dengan mata sendiri, maka ia akan memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan orang itu.

Bagaimana dengan kehidupan iman kita? Apakah kita telah “melihat dengan mata sendiri” segala sesuatu yang Tuhan Yesus kerjakan dalam diri kita? Jika jawabnya “ya”, maka kita akan memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan Dia. Sebaliknya, jika jawabnya “tidak”, maka kita tidak dijamin telah memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan Dia.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

Menyembunyikan

Februari 4, 2009

Rahab telah “menyembunyikan” orang-orang suruhan bangsa Israel ketika mereka mengintai kota Yerikho (Yosua 6:17,25). Apa makna kata “menyembunyikan” ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?

Kata tersebut merupakan padanan dari kata Ibrani khaba’ (kata yang dibentuk dari rangkaian huruf-huruf Ibrani “khet-qames-bet-qames-alef”), yang diturunkan dari akar induk kata kh-b (khet-bet). Akar induk kata kh-b tersebut juga menurunkan kata yang lain khabab (khet-qames-bet-patah-bet) yang berarti “mengasihi” (misalnya Ulangan 33:3).

Huruf Ibrani modern “khet” dan “bet” merupakan perkembangan dari tulisan gambar (piktograf) Ibrani kuno yang melambangkan suatu ide tertentu. Huruf “khet” adalah sebuah gambar dinding tenda, sedangkan huruf “bet” adalah sebuah gambar denah ruangan dalam tenda, yang menjadi tempat tinggal (rumah) orang-orang Ibrani pada zaman kuno. Gabungan dua gambar tersebut berarti “dinding rumah”.

Dinding rumah terpasang mengelilingi rumah, yang memungkinkan rumah tersebut menjadi tempat berlindung bagi keluarga. Sebagai tempat perlindungan, rumah menyembunyikan seluruh keluarga dari situasi apa pun yang mengancam, seperti badai, binatang buas, dan lain-lain, atau bahkan orang-orang yang bermaksud jahat.

Rahab telah berlaku seperti “dinding rumah”, yakni menjadi tempat berlindung bagi orang-orang suruhan Israel dari ancaman tentara Yerikho. Oleh karena itu kata “bersembunyi” pada hakikatnya memiliki makna “berlindung”. Yesaya 49:2 misalnya, kata khaba’ dipadankan dengan kata “berlindung”.

Beberapa Penggunaan Kata Khaba’

Dalam Perjanjian Lama kata khaba’ digunakan beberapa kali, di antaranya dalam beberapa peristiwa berikut ini.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, mereka “bersembunyi” dari hadapan Tuhan Allah (Kejadian 3:8, 10). Bayangkan, Tuhan Allah yang mestinya menjadi pelindung bagi mereka, tapi justru dianggapnya sebagai ancaman!

Lima raja yang dikalahkan Yosua, lari dan “bersembunyi” di dalam gua di Makeda (Yosua 10). Mereka mencari tempat berlindung karena jiwanya terancam oleh Yosua. Mereka bisa berlindung di dalam gua, tapi Allah tidak melindunginya. Akhirnya mereka semua mati, karena memang Allah telah menyerahkan mereka ke dalam tangan Yosua.

Pada waktu kelaparan hebat di Samaria ada seorang wanita “menyembunyikan” anaknya karena tiba gilirannya untuk memasak dan memakan anaknya itu (2 Raja-raja 6:29).

Yonatan memberitahukan maksud jahat ayahnya, Raja Saul,yang akan membunuh Daud. Lalu, ia menyarankan agar Daud “duduk di suatu tempat perlindungan dan bersembunyi di sana” (1 Samuel 19:2). Daud memang terancam jiwanya, tapi Allah melindunginya.

Obaja, sang nabi, “menyembunyikan” 100 nabi Tuhan dari upaya pembunuhan yang dilakukan Izebel (1 Raja-raja 18:4,13). Yoseba menyembunyikan Yoas bin Ahazia pada waktu Atalya membunuh semua keturunan raja. Yoas tinggal bersama Yoseba itu dengan “bersembunyi” di rumah Tuhan selama enam tahun (2 Raja-raja 11:3).

Tuhanlah Tempat Bersembunyi atau Berlindung

Dinding rumah atau pun gua, memang bisa menjadi tempat berlindung secara fisik. Tapi, apalah arti tempat-tempat seperti itu kalau Tuhan tidak menjadi tempat berlindungnya? Yesaya, sang nabi besar, telah dipanggil Tuhan sejak dalam kandungan. Ia paham betul bahwa Tuhan telah membuatnya “berlindung” (khaba’) dalam naungan tanganNya (Yesaya 49:2).

Tuhanlah “dinding rumah” atau tempat “bersembunyi” atau “tempat berlindung” bagi orang-orang yang mengasihinya. Sudahkan Dia kita jadikan tempat berlindung selama hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

Huruf T

Februari 4, 2009

“…Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu,

jangan singgung!…” (Yehezkiel 9:6)

Apa yang menarik dengan huruf T (Yehezkiel 9:4,6), yang menjadi tanda pada dahi orang-orang yang dihindarkan dari hukuman Tuhan?

Huruf T (Alkitab terjemahan LAI) merupakan transliterasi untuk huruf “taw” (taw dagesh lene-qames-waw), huruf terakhir dalam abjad Ibrani. Dalam piktograf Ibrani kuno huruf “taw” merupakan gambar dua tongkat menyilang yang membentuk salib. Gambar itu berarti tanda.Tanda berfungsi untuk menegaskan, memperkuat, atau menetapkan sesuatu. Jika tanda dibubuhkan pada suatu dokumen, maka tanda tersebut akan membuktikan kebenarannya.

Dalam kitab Yehezkiel gambar salib tersebut dipakai menjadi tanda pada dahi orang-orang yang diselamatkan Tuhan. Mereka yang bertanda salib di dahinya itu dibebaskan dari hukuman Tuhan. Gambar itu Tuhan pakai untuk menegaskan, memperkuat, atau menetapkan orang-orang pilihanNya untuk diselamatkan dari murkaNya. Sekalipun itu hanya sebuah tanda, tapi hal itu telah ditetapkan Tuhan sendiri dan pasti Ia membuktikan kebenarannya.

Penggenapan nubuatan Yehezkiel itu berdimensi ganda: dimensi ke-kini-an dan ke-akan-an. Mari kita lihat dua dimensi ini! Pada tahun 597 SM, sang nabi meyampaikan nubuatannya setelah menerima penglihatan di sungai Kebar. Saat itu ia bersama-sama para buangan yang dibuang ke negeri Babel. Apa yang terjadi dalam sejarah Yehuda 11 tahun kemudian? Pada tahun 586 SM Yerusalem dimusnahkan. Itulah dimensi kekinian penggenapan nubuatan Yehezkiel. Nubuatannya telah digenapi!

Bagaimana dengan dimensi keakanan penggenapan nubuat Yehezkiel? Jika dimensi kekinian sudah tergenapi, dimensi keakanan pun akan digenapi. Artinya: orang yang tidak mau taat kepada Allah, akan dihukum.

Salib Tuhan Yesus

Pada zaman Yehezkiel tanda salib ditetapkan Tuhan menjadi penanda bagi orang-orang yang diselamatkanNya. Pada zaman Perjanjian Baru salib pun dipakaiNya sebagai penanda karya penyelamatan Tuhan bagi orang-orang yang dibebaskan dari murkaNya. Bukankah oleh salib itu manusia berdosa telah dilenyapkan perseteruannya dengan Allah (bandingkan Efesus 2:16)?

Salib telah ditetapkan Allah menjadi tanda dalam Perjanjian Lama dan karya dalam Perjanjian Baru untuk membebaskan manusia dari hukuman Allah.

Karena itu, mari kita terus camkan betapa agungnya karya Kristus di kayu salib itu! “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

“Bulatkanlah” Hatiku!

Februari 4, 2009

“Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN,

supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu;

bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu”

(Mazmur 86:11)

Kata Ibrani yakhad (dibentuk dari susunan huruf-huruf “yod-patah-khet-qames-dalet”) dipadankan dengan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, seperti “bulat”, “bersatu”, dan “bersama-sama”. Ada beberapa kata lain yang dipadankan dengan kata itu.

Kata tersebut diturunkan dari akar induk kata khd (khet-dalet). Huruf “khet” (kh) adalah gambar dinding tenda, sedangkan huruf “dalet” (d) adalah gambar pintu tenda. Gabungan dua gambar tersebut berarti “pintu dinding”. Dinding tenda atau rumah memisahkan sesuatu yang berada di dalam dan yang di luar tenda atau rumah. Hanya melalui pintu sesuatu yang ada di dalam menyatu dengan sesuatu yang ada di luar.

Kebulatan Hati Daud (Mazmur 86)

Pada saat Daud mengalami kesesakan hidup, ia hanya datang kepada Tuhan dan meminta pertolonganNya. Ia tahu keberadaan dirinya yang memerlukan pertolongan dan keberadaan Tuhan yang menjadi sumber pertolongan (ayat 1-7). Ia tahu kebesaran Tuhan dan pertolongan yang pernah Tuhan kerjakan terhadap dirinya (ayat 8-13). Atas hal-hal tersebut, Daud memohon Allah berpihak kepadanya (ayat 14-17).

Daud sangat yakin bahwa Tuhan akan menjawab doa-doanya. Karenanya, Daud meminta Tuhan “membulatkan” hatinya untuk takut akan namaNya (ayat 11).

Berdasarkan kajian kata yakhad di atas, makna permintaan Daud dalam ayat 11 tersebut berarti Tuhan diminta menyatukan hatinya (supaya tidak “terpisah-pisah”), sehingga hatinya itu menjadi satu untuk takut akan nama Tuhan, yaitu YHWH. Daud memberi tempat untuk takut akan nama Tuhan tidak di sebagian hatinya, tapi di hatinya yang satu, utuh, bulat.

Daud memang berada dalam kesesakan, dan ia berdoa untuk meminta pertolongan Tuhan. Tapi, Daud tidak lupa memohon petunjuk tentang jalanNya, FirmanNya, bahkan hatinya minta dibulatkan untuk takut kepada nama Tuhan.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

Memperingatkan

Februari 4, 2009

Kata “memperingatkan” (dalam Keluaran 18:20 digunakan kata “mengajarkan”) merupakan padanan dari suatu kata Ibrani yang memiliki akar (cabang) kata zhr (baca: zahar, yang dibentuk dari huruf-huruf konsonan Ibrani “zayin-he-resh”). Akar cabang kata zhr tersebut diturunkan dari akar induk kata zr (zayin-resh).

Huruf “zayin” yang dikenal sebagai tulisan Ibrani modern, berasal dari huruf gambar (piktograf) yang berupa peralatan pertanian seperti cangkul atau bajak dan antara lain melambangkan makna panenan, sebagaimana alat ini dipakai untuk memanen. Sedangkan huruf “resh” merupakan gambar kepala seorang laki-laki. Gabungan dua gambar tersebut berarti “panenan kepala butir”.

Apa hubungan antara kata “memperingatkan” dengan makna harfiah zr yang berarti “panenan kepala butir”?

Setelah butir dipanen, butir itu akan dibuka dengan cara memecahkannya. Pemisahan antara kulit atau sekam dengan biji tersebut dilakukan dengan cara menampi. Kulit atau sekam akan terbawa angin, sedangkan butir itu karena lebih berat dari kulitnya, akan jatuh ke bawah. Seorang pemanen akan mengumpulkan biji-biji tersebut. Butir-butir yang telah terpisah dari kulit atau sekam inilah yang merupakan hasil panenan yang utama.

Dengan demikian, kata “memperingatkan” berarti suatu upaya untuk memisahkan sesuatu yang berharga dengan sesuatu yang tidak berharga, sebagaimana memisahkan antara sekam dan butir dari hasil panenan, untuk mendapatkan hasil yang utama.

Firman Tuhan yang Memperingatkan

Hidup umat Tuhan dapat terancam oleh kesesatan dan pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Bagaimana mereka dapat terbebas dari hal-hal seperti itu? Pemazmur mengajar, bahwa Taurat Tuhanlah yang dijadikannya pegangan dan dialah yang memperingatkannya. Mengapa? Sebab Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa, teguh, memberi hikmat, tepat, menyukakan hati, murni, membuat mata bercahaya, benar, adil, indah, dan manis (Mazmur 19:8-14).

Sebagaimana Taurat Tuhan itu memperingatkan pemazmur, begitu juga ia memperingatkan kita. Taurat atau Firman Tuhan itulah yang menjadi alat penampi bagi kita untuk memisahkan sesuatu yang berharga dengan sesuatu yang tidak berharga.

Sudahkah kita menggunakan Firman Tuhan sebagai alat penampi untuk memisahkan hal-hal berharga dan hal-hal tidak berharga dalam hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

Lihat

Februari 4, 2009

Kata “lihat” di antaranya dipadankan dengan kata Ibrani hen (yang dibentuk dari susunan huruf-huruf “he-sere-nun”) atau hineh (he-hiriq-nun dagesh forte-sere-he), yang keduanya diturunkan dari akar induk kata hn (he-nun).

Sebagaimana kita ketahui, bahwa setiap huruf Ibrani modern yang kita kenal sekarang ini pada awalnya berupa gambar-tulisan (piktograf) yang mengandung makna tertentu. Huruf “he” dalam piktograf Ibrani kuno berupa gambar seorang yang mengangkat keduatangannya tanda kekaguman karena suatu penglihatan yang menakjubkan. Sedangkan huruf “nun” adalah gambar benih yang sedang bertumbuh, yang di antaranya mengandung makna “kelanjutan”. Gabungan kedua gambar tersebut berarti “suatu pandangan ke arah sesuatu secara terus-menerus”.

“Lihat, itu hamba-Ku…”

Dalam kitab Yesaya 42:1, seperti dikutip Tuhan Yesus dalam dalam Matius 12:18, nabi Yesaya menulis, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.”

Hamba yang dibicarakan nabi Yesaya dalam ayat di atas adalah Tuhan Yesus, Sang Mesias. Dia akan diurapi Roh Kudus untuk melaksanakan tugas penebusan bagi manusia. Dia seorang misioner yang membawa norma Allah kepada semua bangsa.

Sang nabi, yang telah menuliskan nubuatan ini antara pertengahan abad ke-8 BC hingga akhir abad ke-7 BC, menyampaikan firman Allah yang meminta agar umatNya “memandang secara terus-menerus ke arah hambaNya atau orang pilihanNya atau orang yang kepadaNya Ia berkenan”.

Dalam konteks Perjanjian Lama, Sang Nabi menyerukan agar umat Tuhan tidak henti-hentinya menyelidiki terus-menerus berita kedatangan Sang Mesias itu. Sehingga, mereka dapat mengarahkan pandangannya dan percaya kepada Sang Mesias yang dijanjikanNya itu. Sebab, dari situlah Tuhan membangkitkan pengharapan Yehuda.

Implikasi

Nubuat para nabi, perkataan dan perbuatan Tuhan Yesus selama hidupNya, dan kesaksian para murid dan rasul tentang Tuhan Yesus Kristus akan sangat meneguhkan iman umat Tuhan. Mari kita terus-menerus mengarahkan pandangan kita kepada Dia terhadap setiap kesaksian yang sudah dicatat dalam Kitab Suci!

Peristiwa-peristiwa dalam hidup kita tidak ada yang kebetulan di mata Tuhan. Apa pun peristiwa yang kita alami itu diarahkan Tuhan supaya kita menerima kasih dan anugerahNya. Mari kita terus-menerus mengarahkan pandangan kita kepada Dia terhadap setiap peristiwa dalam kehidupan yang kita alami!

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

Anak

Februari 4, 2009

Anak merupakan bagian dari anggota keluarga. Apakah arti kata “anak” ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?

Dalam bahasa Ibrani kata tersebut berpadanan dengan kata ben, yang tersusun dari huruf-huruf Ibrani “bet dagesh lene-sere-nun”, yang diturunkan dari akar induk kata bn (bet-nun).

Tulisan Ibrani mula-mula (Ibrani kuno), huruf “bet” merupakan sebuah gambar (piktograf) denah ruangan tenda yang di antaranya melambangkan rumah atau keluarga. Sedangkan huruf “nun” adalah gambar sebuah benih yang mulai tumbuh dan di antaranya mengandung makna “pelestarian” sebagaimana benih meneruskan generasi berikutnya. Gabungan dua gambar tersebut berarti “meneruskanrumah”.

Kata “anak” disamakan dengan ide “meneruskan rumah” dalam alam pikiran orang Ibrani. Hal tersebut berasal dari ide membangun tenda. Tenda dibangun dengan tenunan rambut kambing. Karena matahari mengelantangnya terus-menerus, maka tenunan tersebut akan rapuh dan mengharuskan pemilik tenda menggantinya dari waktu ke waktu. Tenunan yang terbaru akan dipasang sebagai atap, sedangkan tenunan lama akan ditambahkan ke dinding atau lantai tenda. Tanpa penggantian seperti itu, tenda akan punah.

Sebuah keluarga juga akan mengalami kepunahan jika seorang anak tidak dilahirkannya. Ia akan menggantikan orang tuanya yang mulai tua dan nantinya akan mati. Anak akan menjalankan peran “meneruskan rumah” sebagaimana panel tenunan rambut kambing yang baru menggantikan yang lama. Ia akan memperbarui garis keluarga, seperti halnya panel tenunan rambut kambing yang baru memperbarui tenda.

Percaya Yesus Menjadi Anak-anak Allah

Yohanes 1:12 mencatat hal yang luar biasa bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, yaitu mendapat kuasa menjadi anak-anak Allah.Kata “anak-anak” di ayat tersebut, dalam terjemahan berbahasa Ibrani, menggunakan kata berbentuk jamak, yang berasal dari bentuk tunggal ben.

Dengan demikian, saya dan Anda yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus diberi kuasa menjadi “penerus rumah” Allah atau “penerus keluarga” Allah. Garis keluarga Allah akan terus berlanjut melalui saya dan Anda, anak-anakNya, yaitu jika kita memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus. Dengan pemberitaan Injil, orang yang percaya akan menjadi anak-anak Allah dan mereka mendapat kuasa menjadi “penerus keluarga” Allah, seperti kita. Demikian seterusnya, “penerus-penerus keluarga” Allah akan bermunculan sejalan dengan munculnya anak-anak Allah.

Bukankah mendapat kuasa menjadi “penerus-penerus keluarga” Allah merupakan hal yang teristimewa dalam hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)

h1

KesetiaanNya tetap “Turun-temurun”

Februari 4, 2009

“Sebab TUHAN itu baik,

kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,

dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”

(Maz 100:5).

Mazmur 100:5 merupakan kesaksian Pemazmur mengenai kasih setia Tuhan yang berlangsung terus turun-temurun, dari generasi ke generasi. Apa makna awal kata “turun-temurun” dari kajian tulisan Ibrani kuno?

Kata “turun-temurun” dipadankan dengan kata Ibrani dor (dalam tulisan Ibrani kata tersebut disusun dari huruf-huruf dan tanda vokal Ibrani: dalet dagesh lene-holem waw-resh). Kata dor diturunkan dari akar induk kata dr (dalet-resh). Huruf Ibrani modern “dalet” dan “resh” serta huruf-huruf Ibrani yang lain, berasal dari gambar-gambar yang melambangkan makna tertentu sesuai dengan cara berpikir dan budaya orang Ibrani kuno.

Huruf “dalet” (d) adalah gambar pintu tenda yang berupa tabir atau gorden yang tergantung. Sebagaimana gorden yang tergantung, jika dilewati seseorang, maka gorden tersebut akan bergerak maju dan kemudian mundur lagi setelah orang itu melewatinya. Karena itu, orang Ibrani menggambarkan ide gerakan maju mundur dengan simbol pintu. Sedangkan huruf “resh” (r) adalah gambar kepala seorang laki-laki yang antara lain berarti “orang”. Jadi gabungan gambar pintu dan kepala seorang laki-laki tersebut berarti “gerakan maju-mundur orang laki-laki” atau “gerakan mondar-mandir orang laki-laki”.

Bagi orang Ibrani, satu generasi merupakan satu perputaran garis keluarga. Seseorang lahir, hidup, lalu mati, sebagai satu siklus dalam hidupnya. Namun, sebelum ia mati, ia menurunkan anak. Anak inilah yang melanjutkan siklus kehidupan tersebut, sehingga garis keluarganya berlanjut. Oleh karena itu siklus kehidupan seseorang dalam sebuah keluarga menjadi satu putaran dari sekian banyak putaran dalam keseluruhan garis keluarganya.

Dengan demikian kata “turun-temurun” mengandung makna: (1) berlangsung dalam setiap siklus hidup masing-masing generasi, (2) berkelanjutan dari generasi ke generasi, (3) berlangsung dalam seluruh garis keluarga.

Implikasi

Mari kita merenungkan, bahwa kesetiaan Tuhan itu tidak pernah berhenti pada satu siklus hidup seseorang, atau satu generasi. Tapi, kesetiaanNya itu berlangsung terus sepanjang generasi dalam keseluruhan garis keluarga. Saya dan Anda yang mewakili generasi dari garis keluarga kita masing-masing telah mendapatkan kesetiaan Tuhan. Namun jangan lupa bahwa generasi di atas kita, yaitu generasi-generasi yang melahirkan kita, sehingga kita menjadi ada, telah mendapatkan kesetiaan Tuhan. Tuhan menjagai kita sejak generasi-generasi yang mendahului kita ada di dunia ini.

Anda bisa menghitung jumlah generasi dalam garis keluarga Anda sendiri. Jika usia bumi ini 6000 tahun dan setiap generasi itu 30 tahun, maka sejak manusia diciptakan Tuhan hingga generasi kita sudah ada sekitar 200 generasi. Bayangkan, Tuhan sudah memberikan kesetiaanNya sepanjang 200 generasi dalam garis keluarga kita masing-masing dan entah berapa generasi lagi sebelum Yesus datang keduakali. Bukankah ini bukti kesetiaan Tuhan yang tidak ada habis-habisnya? Jadi, adakah alasan untuk mengkhawatirkan hidup kita?

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan)

h1

Khawatir

Februari 4, 2009

Kata “khawatir” merupakan padanan dari kata Ibrani da’ag (kata ini disusun dari huruf-huruf dan tanda vokal Ibrani: dalet dagesh lene-qames-alef-patah-gimel), yang diturunkan dari akar kata induk dg (dalet-gimel). Sebagaimana sejarah huruf Ibrani modern yang pada awalnya berasal dari huruf-gambar, huruf “dalet” berupa gambar pintu tenda dan huruf “gimel” berupa gambar kaki. Gabungan gambar “dalet-gimel” berarti “gerakan kaki maju-mundur”.

Sebagaimana yang kita kenal di zaman modern, pintu dipakai sebagai tempat jalan keluar-masuk rumah.Pada zaman Ibrani kuno, rumah mereka tidak permanen, melainkan berupa tenda. Pintu tenda berupa tabir (gorden) yang menggantung di atas jalan keluar-masuk tenda. Pada waktu siang gorden itu ada kalanya digulung ke atas, dan ada kalanya dibiarkan menggantung. Pada saat seseorang keluar tenda, ia akan melewati gorden yang menggantung tersebut, sehingga gorden akan terdorong ke depan. Ketika orang itu telah melewatinya, maka gorden kembali ke belakang. Gorden bergerak maju dan mundur ketika seseorang melewatinya.

Orang Ibrani menggambarkan keadaan seseorang yang khawatirseperti gorden yang bergerak maju mundur itu. Seseorang yang khawatir,ia melangkahkan kakinya maju-mundur. Ia tidak mantap dalam melangkah. Ia mau bergerak maju, tapi karena sesuatu hal, ia mundur lagi.

Orang yang Mengandalkan Tuhan tidak Khawatir

Yeremia 17:5-8 mencatat tentang dua macam orang, yaitu orang yang mengandalkan manusia dan orang yang mengandalkan Tuhan. Orang yang mengandalkan manusia sama dengan orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan. Dia adalah orang terkutuk,(bandingkan ayat 5). Orang seperti itu diumpamakan seperti semak bulus di padang belantara, di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk (ayat 6).

Keadaan orang yang mengandalkan manusia tersebut dilawankan dengan orang yang mengandalkan Tuhan.Orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan (ayat 7). Orang semacam ini diberkati Tuhan. Ia diumpamakan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (ayat 8).

Rasa khawatir, yang digambarkan orang Ibrani kuno seperti “gerakan kaki maju-mundur”, tidak terjadi pada orang yang mengandalkan Tuhan. Sekalipun ia hidup pada masa paceklik atau ekonomi dunia yang sedang tergoncang seperti sekarang ini, ia tetap dapat melangkahkan kaki dengan mantap dan tidak ragu-ragu.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber sebagai bahan rujukan)